"I were born because I am going be important to someone"
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Saturday, 27 October 2012

SI TUA KORNEY VASILIEV - Leo Tolstoy (Sinopsis)


Korney adalah seorang yang memiliki beberapa pengalaman bekerja dalam hidupnya. Ia pernah bekerja di toko, dinas militer, pedagang ternak, dan asisten pegawai perusahaan penebangan kayu. Korney juga pernah melaukan pernikahan sebanyak 2 kali. Istri pertamanya sering sakit, lalu meninggal tanpa memberi Korney seorang anak. Korney tidak butuh waktu lama untuk mencari istri baru. Wajahnya yang mulus, tengkuk lehernya yang bidang dan kuat merupakan daya tarik yang dia miliki untuk mencari istri baru. Setelah menduda beberapa waktu dia menikahi seorang gadis cantik. Dia adalah seorang anak janda yang tinggal di sebelah desa Korney, setelah menikah dia memutuskan untuk meninggalkan desa dan merantau di Moskow dan Chekas. Setelah merantau beberapa tahun, dia kembali ke desa Gayi untuk bertemu dengan ibu, istri dan anaknya.

Perjalanan pulang, ia bertemu teman lamanya yang bernama Kusma di sebuah stasiun. Kusma adalah teman sedesa Korney yang sekarang ia bekerja sebagai penarik kereta kuda. Setelah berbincang sebentar, Korney meminta Kusma untuk mengantarnya ke desa Gayi. Selama perjalanan kedua orang tersebut berbincang-bincang tentang bagaimana kondisi desa sekarang. Dalam percakapan yang terus berlangsung, Kusma menceritakan bahwa Marfa (istri Korney) telah  membawa pelayan lelaki bernama Evstigny Bely dari Kamenka ke rumahnya. Saat menempuh setengah perjalanan mereka berdua berhenti di sebuah kedai minuman untuk istirahat dan minum vodka. Di kedai tersebut Kusma sering menceritakan keadaan Marfa yang telah membawa pelayan laki-laki ke rumahnya. Mendengar hal itu Korney merasa cemburu dan kesal. Selasai istirahat mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah pada petang hari. Setiba di rumah orang yang bertemu dengan Evstigny Bely, orang yang keriput, bulu matanya putih dan berjalan tergopoh-gopoh. Kemudian di bertemu dengan istri dan anaknya  yang berumur 2 tahun. Untuk menyambut kedatangan Korney para penghuni rumah mengadakan acara minum teh. Saat acara itu Korney membagikan beberapa oleh-oleh dari Moskow untuk anggota keluarganya. Korney hanya diam dan hanya sesekali bicara dan tersenyum. Setelah acara minum teh selesai Korney masuk ke kamar tidur untuk istirahat. Di kamar tidur ia tidak langsung istirahat melainkan menuggu Marfa istrinya. Tidak beberapa lama Marfa masuk ke kamar dengan menggendong anak perempuannya yang sudah tidur.

Setelah menaruh putrinya ke ranjang, Marfa dan Korney mulai bercakap-cakap. Korney menanyakan apakah Marfa tinggal dengan Evstigny. Selain itu Korney juga menanyakan apakah Evstigny sudah lama tinggal tinggal di rumahnya. Marfa menjawab jika Evstigny sudah 3 minggu tinggal di rumahnya. Korney terus bertanya kepada Marfa tentang apa yang Marfa bicarakan dengan Evstigny di koridor saat Korney baru tiba. Marfa menjawab jika dia hanya menyuruh Evstigny untuk memasang gelindingan di atas tong. Meskipun Marfa sudah menjawab dengan jujur namun Korney tidak percaya kepadanya, Korney mulai emosi dan marah. Karena Korney sudah emosi dan Marfa tetap kukuh terhadap perkataannya maka akhirnya mereka bertengkar. Saat pertengkaran itu Korney beberapa kali memukul Marfa di bagian kepala, pinggang dan dada. Agasha (anak perempuannya) yang tidur langsung terbangun dan memeluk Marfa. Karena Korney sudah tersulut emosi yang tidak terkendali dia langsung menghempaskan Agasha ke sudut kamar. Mengalami hal itu Agasha langsung tidak bersuara. Beberapa saat kemudian Agasha berteriak lagi dan ibu Korney langsung masuk kamar dan memelukya. Marfa yang mulai berdarah dan emosi, tanpa pikir panjang mengatakan bahwa dia memang tinggal bersama Evstigny dan Agasha adalah anak Evstigny bukan anak Korney. Mendengar hal itu Korney semakin marah dan kembali memukul Marfa. Ibu Korney yang melihat perlakuan kasar anaknya langsung memarahi Korney. Akibat perbuatan kasar Korney lengan Agasha patah. Korney keluar pintu dan merenung di tangga masuk rumahnya. Beberapa saat kemudian ia mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar. Dengan rasa kesal Marfa mencerca Korney, namun Korney tetap diam saja. Korney berencana untuk pergi ke stasiun. Ia diantar menggunakan kuda oleh keponakannya yang bodoh. Setiba di stasiun Korney pergi naik kereta tanpa memberi tahu kemana tujuannya.

Tujuh belas tahun telah berlalu. Keadaan Korney sekarang tidak seperti yang dulu. Korney yang sekarang adalah seorang pengemis tua. Dia  hanya memiliki baju yang melekat pada tubuhnya, selembar tiket dan 2 kemeja. Perubahan hidup yang dialami Korney karena dia terus memikirkan istrinya. Dia menganggap istrinya yang membawa kemalangan ini. Setelah meningalkan istrinya 17 tahun yang lalu, Korney berniat membeli sebidang tanah namun tanah yang ingin dia beli sudah dijual ke pihak yang lain. Ia kemudian ke Moskow dan saat itu dia mulai minum-minuman keras. Korney mencoba untuk bertahan hidup dengan beternak hewan, menjadi pegawai, berdagang ternak, bekerja di saudagar anggur dan pengembala hewan ternak. Malangnya apa yang dilakukan Korney tidak berhasil dan dia memutuskan untuk menggelandang. Korney terus melakukan perjalanan tanpa tujuan, dia melewati Kiev, Kaukasus, hingga Novy Alfon. Saat melakukan perjalanan itu Korney mengalami demam dan uangnya mulai habis. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah anak lelakinya. Sebelum tiba di rumah anaknya uang Korney sudah habis sehingga dia harus mengemis. Dengan menempuh perjalanan selama dua minggu, ia akhirnya sampai ke Andreyevka dan dia bertemu seorang gadis pengembala hewan ternak dalam perjalanannya itu. Gadis muda tersebut menawari Korney untuk mampir ke rumahnya. Gadis itu sebenarnya adalah Agasha, sekarang Agasha telah menikah dengan pemuda kaya dari Andreyevka. Akibat kekejaman Korney 17 tahun yang lalu, tangan Agasha hingga sekarang mengalami cacat.

Saat pertemuan tersebut, baik Agasha maupun Korney belum mengenal satu sama lain. Karena mendapat tawaran dari Agasha untuk mampir, Korney berencana untuk menginap 1 sampai 2 hari. Keluarga Agasha mempersilahkan Korney untuk mampir dan mengundang Korney dalam acara minum teh pada malam harinya. Saat acara minum teh tersebut mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal. Sampai akahirnya Korney menanyakan apa yang terjadi dengan tangan Agsha. Ibu mertua Agasha menceritakan kepada Korney jika tangan Agasha patah sejak kecil karena dianiaya ayahnya. Ibu mertua Agasha memberitahu jika nama ayah yang menganiaya Agasha bernama Korney. Ibu mertuanya juga menyebutkan jika Korney telah menghilang selama 17 tahun yang lalu dan mungkin si Korney sudah mati. Mendengar cerita tersebut Korney hanya bisa diam. Kemudian dia bertanya kepada Agasha, apakah Agasha marah kepada ayahnya yang telah mematahkan lengannya? Agasha menjelaskan jika ia tidak marah kepada ayahnya. Meskipun dia telah membuatnya cacat Agasha. Mendengar hal itu Korney menangis tersedu-sedu.

Keesokan paginya Korney berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Ia berencana untuk datang ke desa Gayi. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan Korney sampai ke desa tempat ia tinggal dulu. Desanya tidak berubah, begitu juga rumahnya. Sampai di depan rumahnya dulu Korney melihat dua ekor kuda dan seorang anak kecil. Korney menduga jika anak kecil itu adalah cucunya, anak dari Fedka. Di belakang anak tersebut ada seekor anjing yang berwarna hitam. Korney mengira anjing itu adalah Volchok, anjing peliharaannya dulu. Setiba di koridor rumah, Korney di usir oleh seorang wanita tua, karena dianggap seorang pengemis. Wanita tua itu adalah Marfa. Korney berharap bertemu Marfa yang cantik, bukan wanita tua yang keriput. Marfa belum tahu jika yang datang ke rumahnya adalah Korney. Dia tidak mau bertemu dengan Korney sehingga menutup rumahnya. Tidak lama kemudian datang dua orang petani dari pitu. Mereka adalah Fedka dan kemenakan Korney. Kemenakannya yang tolol kemudian mengambilkan roti untuk Korney. Melihat sikap yang ditunjukan 2 anggota keluarganya ini, ia tidak mampu menahan tangis karena terharu. Setelah menerima sepotong roti tawar, Korney berpamitan untuk meninggalkan rumahnya. Melihat Korney meninggalkan dirinya, Marfa merasa lega. Marfa melanjutkan pekerjaannya, namun dia tetap memikirkan Korney.

Korney kembali ke rumah Agasha. Disana Korney berencana untuk menginapa semalam. Pada malam harinya Korney menderita demam yang cukup tinggi, namun dia tetap bisa tidur. Ketika dia bangun tidur di pagi hari, hanya Agasha yang masih ada di rumah. Melihat Korney terbangun, Agasha mengambilkannya sepotong roti. Lalu Korney berbicara dengan Agasha jika hidupnya tidak lama lagi dan ia meminta maaf kepada Agsaha. Dengan jiwa besar, Agasha memaafkan Korney yang telah membuatnya cacat seumur hidup. Korney meminta tolong kepada Agasha untuk memberi tahu ibunya jika orang yang kemarin datang kerumahnya adalah Korney. Kemudian Korney memberi Agasha selembar tiket prajurit untuk diberikan kepada siapapun yang  memintanya. Agasha pun pergi sebentar unuk menyimpan tiket tersebut. Dengan suara yang lemah Korney meminta lilin dan mencoba meraih lilin itu dengan ibu jarinya. Saat Agasha kembali dari menyimpan tiket prajurit yang diberikan Korney, dia melihat Korney sudah meninggal.

Marfa yang pada malam harinya yang terus kepikiran Korney pada keesokan harinya ia datang ke rumah Agasha. Saat tiba disana, dia melihat banyak orang datang ke rumah anaknya itu. Mereka ternyata berziarah untuk kematian Korney Vasiliev. Orang yang dulunya kaya dan terkenal sekarang meninggal dalam keadaan miskin.

Note: sinopsis ini pernah saya dipaparkan pada Mata Kuliah Kajian Prosa Rusia sebagai tugas individu pada Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia pada tahun akademic 2010/2011

Sinopsis Cerita Pendek “Makar Chudra” (Maxim Gorky)

Cerita pendek yang berjudul “Makar Chudra” (bahasa Rusia: Макар Чудра) ini ditulis pada tahun 1892 dan merupakan karya pertama yang diterbitkan dari Maxim Gorky. Dalam cerita ini Gorky menggambarkan dirinya sebagai tokoh ‘aku’ yang berinteraksi dengan Makar. Dialog antara kedua tokoh di sini menjadi fokus cerita, meskipun Makar lebih mendominasi.
Cerita dimulai dengan kehadiran seorang gipsi tua bernama Makar Chudra, yang bercakap-cakap dengan penlulis. Sudah gelap, angin berat, api unggun yang berkobar marah. Makar mengisap pipa yang besar.
Makar berpendapat bahwa orang dilahirkan untuk melakukan perjalanan dan tidak ada yang lebih baik dari bepergian. Ia bertanya mengapa seorang pria harus membajak sawah. "Seorang pria yang bajak tanah menuangkan kekuatannya ke dalam tanah. Dia tidak hanya kehilangan kekuatannya, tetapi juga kebebasannya. Dia terikat pada tanah. Saya telah melakukan begitu banyak perjalanan, melihat begitu banyak dan belajar banyak bahwa Anda akan membutuhkan 1000 kantong kertas untuk menempatkan mereka semua masuk "
Pembicaraan berhenti ketika mereka mendengar Nonka, putri Makar yang sedang bernyanyi. Penulis melihat dan terpesona oleh kecantikannya. Makar mengatakan "Anda ingin memiliki seorang pelayan cantik seperti dia dan jatuh cinta dengan Anda? Tidak baik untuk Anda. Jangan taruh kepercayaan Anda pada wanita. Suatu kali Anda menciumnya, semua kebebasan Anda akan hilang. Anda akan menuju pada keruntuhan. Mari saya ceritakan sebuah cerita."
Loiko Zobar adalah seorang pemuda pemberani yang terkenal di seluruh stepa. Jika ia pernah mengambil dan menyukai sesuatu, itu akan menjadi miliknya. Ia selalu berkelana sesuka hatinya. Ada sedikitnya sepuluh orang di setiap desa yang telah bersumpah untuk mengambil kepalanya. Akan tetapi, mereka bahkan tidak bisa menyentuh rambut di kepalanya. Dikatakan bahwa ia bahkan bias membunuh setan jika ia berjalan di jalannya.
"Kumisnya menyapu ke bawah bahunya, di mana mereka berbaur dengan rambutnya, matanya bersinar seperti dua bintang terang, dan senyumnya adalah matahari. Ketika dia menatap mata Anda, jiwa Anda akan menyerah padanya, dan Anda akan bangga bangga karenanya. Anda tampak selalu menjadi lebih baik di hadapannya. "
Radda adalah ratu di antara keindahan. Seorang pria berakar ke tempat di mana ia berdiri jika ia melihatnya. "Tidak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan Radda. Mungkin hanya dapat dilukiskan dengan permainan biola, tetapi hanya orang yang tahu instrumen karena ia tahu jiwanya."
Banyak pria melamarnya tetapi Radda menolak. Seorang pria kaya begitu kagum dengan kecantikannya sehingga dia siap untuk memberikan segalanya demi Radda, Akan tetapi, Radda terlalu angkuh. Radda selalu mengejek setiap orang yang meminta tangannya.
Dalam suatu perjalanan, Zobar kebetulan datang ke kamp di mana Radda tinggal. Zobar masuk ke dalam kamp sekaligus terpesona oleh kecantikan Radda. Ia mencoba untuk merayu Radda. Dia hanya menemukan lelucon akan ceramahnya, menemukan musik lembut, dia tidak menyerah kepada Radda dengan cara apapun. Zobar terjun ke dalam keputusasaan dan bermain biolanya sepanjang malam. Dia begitu brilian bermain biola dan musiknya mencairkan hati setiap orang. Semua orang mengagumi kepiawaian Zobar, namun Radda tidak seperti itu. Dia mengolok-olok Zobar terus-menerus. Padahal semua orang menghargai setiap lagu yang dinyanyikan oleh Zobar, ia dengan keras mengritik mereka.
Karena tidak menemukan cara untuk membuat Radda setuju kepadanya, Zobar mendekati Danilo, ayah Radda. Danilo menyetujui Zobar dan mengatakan "bawa dia kalau bisa". Radda terlihat duduk di atas kuda dan Zobar mendekatinya. Dia bilang dia telah melihat banyak wanita, tetapi tidak ada yang berapi-api dan seindah Radda. Dia meminta Radda untuk menjadi istrinya. Ia juga memperingatkan bahwa untuk menjadi istrinya tidak berarti bahwa ia akan mampu untuk mengekang kebebasannya. Radda bulu mencambukkan bulu matanya kepada Zobar. Zobar menangkap kakinya dan menarik Radda hingga jatuh. Radda memiliki seringai liar di wajahnya.
Setelah Radda jatuh dari kuda, ia datang ke arah Zobar. Begitu ia sudah dekat Zobar, Zobar menyerang dengan pisau dan Radda menarik pistol keluar. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia siap untuk gencatan senjata. Radda mengatakan bahwa ia menemukan orang paling berani di seluruh padang rumput, satu-satunya orang yang pernah bisa berdiri di hadapannya. Dia memberikan pilihan di hadapannya. Jika dia harus menjadi istrinya, Zobar harus menyentuh kaki Radda di depan setiap orang dan kemudian mencium tangannya. Radda mengatakan kepada Zobar bahwa ciuman penuh gairah dan belaiannya sedang menunggu Zobar. Di bawah pengaruhnya Zobar akan melupakan kehidupan berani yang dipimpin olehnya di masa lalu dan menjadi hamba Radda selama-lamanya.
Setiap orang tidak setuju apabila Zobar harus menyentuh kaki Radda. Zobar tidak mengatakan apa-apa dan pergi menjauh. Dia terlihat berpikir sepanjang malam, kadang-kadang bermain nada sedih dengan biolanya di malam hari.
Hari berikutnya datang. Zobar memberitahu rekan-rekannya bahwa ia akan menyentuh kakinya, tetapi ia perlu untuk menguji seberapa kuat hatinya. Zobar berjalan menuju Radda, pergi mendekati dan menjerumuskan pisau ke dalam hati Radda. Dia menarik pisau keluar dan beberapa saat sebelum keluar dia berkata "Selamat tinggal Zobar. Aku tahu kau akan melakukannya". Sebagian orang tertegun melihat Radda tidak bernyawa. Zobar melemparkan dirinya di kaki Radda. Beberapa saat kemudian semua orang masih diam setelah Zobar bangkit dan mulai berjalan pergi. Saat itulah Danilo berlari menuju Zobar dan menyodorkan pisau ke bagian belakang hatinya. Zobar terjatuh.
Tubuh Radda dan Zobar akhirnya terbaring mati dan terus berputar-putar dalam pikiran penulis, namun Makar Chudra terus merokok dengan cerutunya yang besar.

Note: Sinopsis ini pernah dipaparkan pada makalah dan presentasi sebagai tugas kelompok Mata Kuliah Sastra dan Masyarakat Rusia, Program Studi Rusia, FIB UI tahun akademik 2011/2012.