Slavopil dan Zapadniki adalah dua pandangan filosofis Rusia yang berkembang pada awal abad ke-19. Dua pandangan ini memiliki pandangan yang sangat bertentangan tentang negara Rusia. Slavopil lebih menekankan kepada pengaruh dan pemikiran Gereja Ortodox sebagai identitas Rusia. Sementara itu, Zapadniki lebih menekankan bahwa Rusia harus mencontoh negara-negara Eropa Barat agar menjadi negara maju. Dua pandangan filosofis yang dihasilkan oleh para intelegentsia ini masih menjadi perdebatan. Slavopil atau Zapadniki yang harus diterapkan di Rusia.
Peter Chaadayev (1794-1856) merupakan salah satu pemikir Rusia yang memberikan sumbangan cukup besar munculnya dua ideologi ini. Pemikirannya yang tertuang dalam Philosophical Letter tahun 1836 dianggap sebagai awal munculnya ideologi Slavopil dan Zapadniki (Williams, 2004). Chaadayev menekankan bahwa Rusia perlu menjalin hubungan dengan Eropa Barat dan Gereja Katolik Roma. Pandangannya tentang agama, kebangsaan, tradisi, dan budaya menjadi pemicu perdebatan antara Slavopil dan Zapadniki.
Slavopil (Slavophiles)
Slavopil adalah ideologi yang mulai berkembang pada awal abad ke-19. Para intelegentsia yang memelopori terciptanya ideologi ini adalah sastrawan Aleksey Khomyakov (1804-1860) dan kritikus sastra Ivan Kireyevsky (1806-1856). Para penganut Slavopil berpandangan bahwa domokrasi adalah bagian dari budaya Rusia, namun mereka menghindari demokrasi yang telah dipengaruhi oleh Eropa Barat. Mereka menolak keras pengaruh Eropa Barat dan menganggap Gereja Ortodox lebih baik. Ideologi ini sangat menjaga semangat kebersamaan (sobornost). Konsep sosialisme ditolak penganut Slavopil karena dianggap sebagai pemikiran barat. Penganut Slavopil menganggap bahwa Gereja Ortodox Timur sebagai pemersatu perdamaian dunia.
Para pemikir Rusia seperti Mikhail Shcherbatov, Aleksander Radishchev, Poshkov, Nikolai Novikov, dan Nikolai Karamzin merupakan penganut Slavopil (Williams, 2004). Mereka merupakan pemikir yang membedakan Rusia Kuno dan Rusia Modern. Pemikiran mereka sangat menonjol ketika masa pemerintahan Tsar Nikolai I (1794-1855) dan pada masa Pemberontakan Desember pada tahun 1825.
Berdasarkan pada gagasan yang dikemukakan oleh Chaadayev, para penganut Slavopil mengembangkan tiga gagasan utama yaitu samobytnost (keaslian), kepentingan Gereja Ortodox, dan penolakan terhadap gagasan dari Peter Agung tentang westernisasi (Williams, 2004). Selain itu, mereka (Slavopil) menentang pembatasan kekuasaan Tsar serta mendukung kebebasan individu untuk berpendapat, memberikan gagasan, dan berperilaku.
Para penganut Slavopil percaya bahwa sifat yang diwariskan oleh bangsa Slavia sangat tepat diterapkan untuk mempertahankan identitas Rusia seperti lembaga tradisional zemsky sobor dan organisasi komunal mir (Zacek, 2000). Mereka juga percaya bahwa bangsa Rusia akan menyatukan kembali orang Slavia dan Rusia akan memimpin kejayaan Slavia. Slavopil juga mendukung adanya sistem otokrasi, mendukung pembebasan budak, serta kebebasan berbicara dan pers.
Slavopil sendiri terbagi atas tiga kategori yaitu, klasik, moderat, dan radikal (Williams, 2004). Mereka juga memiliki pandangan khusus tentang sejarah, bahasa, budaya serta visi Rusia kedepan, terutama hubungan Rusia dengan Barat. Mayoritas penganut Slavopil menentang reformasi yang dilakukan Peter Agung yang telah merusak tradisi Rusia. Mereka (Slavopil) beranggapan bahwa Rusia harus kembali kepada akarnya dan membangun kekuatan sendiri. Secara umum para penganut Slavopil melihat bahwa perjalanan ke Barat sebagai ancaman bagi gereja, petani, masyarakat desa, dan lembaga Rusia lainnya.
Pada awalnya banyak penganut Slavopil Klasik terpengaruh oleh slogan Nikolai I, yaitu, Ortodoksi, Otokrasi, Nasionalisme. Ivan Kireyevsky (1806-1856) merupakan tokoh Slavopil Klasik yang penting. Inti pemikiran Kireyevsky adalah menolak perkembangan rasionalisme, sekularisme, revolusi industri, dan liberalisme (Williams, 2004). Kireyevsky beranggapan bahwa Rusia sebagai negara negara baru yang masih terbelakang, namun tidak perlu meniru apa yang telah dilakukan masyarakat Barat.
Aleksei Khomaikov (1804-1860) merupakan salah satu tokoh Slavopil Klasik. Seperti Kireyevsky, Khomaikov juga berpandangan tentang pembebasan budak dan penentangan terhadap pemikiran Barat. Khomaikov menekankan pada kebebasan spriritual (sobornost) dan keunikan sejarah Rusia (Williams, 2004). Pendapat ini didukung oleh Yuri A. Samarin (1819-1879) yang juga pengikut Slavopil Klasik. Samarin menambahkan bahwa individualitas hanya menaikan keegoisan dan keterasingan, oleh karena itu perlu adanya penguatan negara dan pemimpin pusat. Tokoh lain yang tergolong dalam Slavopil Klasik adalah dua bersaudara Ivan Aksakov dan Konstantin Aksakov. Keduanya ingin mempertahankan tradisi Rusia dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang Slavia.
Slavopil Moderat dipelopori oleh Mikhail P. Pogodin (1800-1875) dan Fyodor I. Tyuchev (1808-1873) (Williams, 2004). Pogodin adalah seorang ahli sejarah, sedangkan Tyuchev adalah seorang penyair dan penulis esai. Sementara itu, Slavopil Radikal dipelopori oleh Nikolai Y. Danilevsky (1828-1855). Gagasan yang diusung oleh Danilevsky adalah menyatukan semua negara dan masyarakat yang memakai bahasa Slavia. Meskipun tidak terlalu mendapat dukungan dari beberapa pemerintah pada abad ke-17, pemerintah Rusia pada tahun 1870 menggunakan konsep ide Danilevsky untuk melakukan kebijakan rusifikasi serta meningkatkan kebijakan ekspansi.
Zapadniki (Westernizers)
Zapadniki adalah ideologi yang bertentangan dengan Slavopil. Para penganut ideologi Zapadniki percaya bahwa Rusia perlu mengadopsi sistem budaya, industri dan ekonomi Barat. Hal ini dianggap perlu bagi para pengikut Zapadniki karena mereka menganggap bahwa semua negara yang ingin berkembang seperti negara-negara Eropa Barat maka harus mencontoh apa yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat.
Bagi para pemikir Zapadniki, reformasi yang dilakukan oleh Peter Agung dan Katerina Agung awal dari kemajuan bangsa Rusia. Oleh karena itu, mereka (Zapadniki) menganggap bahwa apa yang telah dilakukan Peter Agung dan Katerina Agung perlu dilanjutkan. Tujuan utamanya adalah agar Rusia sejajar dengan negara-negara Eropa Barat.
Pandangan filsafat Zapadniki dipengaruhi oleh filsuf Barat seperti George Hegel, Johann Herder, Immanuel Kant, Friedrich Schelling, Johann Fichte, dan Auguste Comte (Mironov, 2004). Inti pemikiran dari mereka didasarkan pada pengakuan terhadap kecerdasan manusia. Para penganut Zapadniki beranggapan bahwa kecerdasan dapat mendorong kepercayan serta memberikan kesempatan untuk mengatur dunia sebagai suatu hubungan sebab akibat (Mironov, 2004). Bagi penganut Zapadniki proses sejarah adalah proses sosial
serta tujuan manusia adalah menyebarkan kecerdasan.
Pada tahun 1840-an, Zapadniki terbagi menjadi dua bagian yaitu radikal dan liberal (Mironov, 2004). Zapadniki Radikal terdiri Aleksander Ivanovich Gertzen dan Nikolai Ogarev, sedangkan Zapadniki Liberal terdiri atas mayoritas para penganut Zapadniki. Zapadniki Radikal hidup sebagai imigran dan membenarkan penggunaan sistem kekerasan untuk mengubah sistem politik (Mironov, 2004). Sementara itu, Zapadniki Liberal mendukung adanya reformasi perdamaian serta menyarankan untuk pemberian tekanan terhadap oponi publik serta penyabaran gagasan mereka melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang ekonomi, para penganut Zapadniki Liberal menganggap bahwa perkembangan industri, perdagangan, dan pembangunan rel kereta api adalah beberapa cara untuk mengembangkan perdagangan bebas (Mironov, 2004).
Slavopil atau Zapadniki?
Perdebatan mengenai Slavopil atau Zapadniki terus berlanjut. Saat ini perdebatan berlanjut antara pendukung dan penentang reformasi, modernisasi, dan tradisionalis maupun internasionalis dan nasionalis (Richmond, 2009: 54). Kelompok konservatif Rusia sedang berusaha untuk menjaga kepercayaan dan harmoni sebagai warisan ideologi Slavopil. Sementara itu, pemerintah Rusia melakukan pembaruan kembali nilai moral dan mencari “Russian Idea” baru untuk membangun Rusia baru pasca runtuhnya Uni Soviet (Richmond, 2009: 55).
Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia, kembali menyatakan bahwa pembaruan tidak hanya tergantung pada kesuksesan ekonomi atau kebijakan yang tepat, tetapi juga tergantung kepada kebangkitan nilai moral dan semangat nasionalisme (Richmond, 2009: 55). Semangat dan kebangkitan tersebut sering disebut sebagai “Russian Idea” yang menekankan kepada patriotisme, perlindungan sosial, negara yang kuat, dan kekuasaan yang luas. “Russian Idea” dianggap sebagai gagasan yang dapat menjangkau segala macam partai yang ada di Rusia, baik nasionalis maupun komunis.
Beberapa penggagas “Russian Idea” adalah orang neo-Eurosianis (Richmond, 2009: 55). Mereka merupakan pemikir-pemikir yang mengalami pengasingan di Eropa Barat pada tahun 1920-an. Saat ini Eurosianis menolak pemikiran Barat dan melihat masa depan Rusia di timur. Mereka mendukung penyatuan tiga orang Slavia (Rusia, Belarusia, dan Ukraina). Para tokoh Eurosianis saat ini adalah Genady Zyuganov pemimpin Partai Komunis Rusia. Sedangkan, tokoh ultransionalis ialah Vladimir Zhirinovsky sebagai pemimpin Partai Liberal Rusia (Richmond, 2009: 56).
Penggabungan antara Slavopil dan Zapadniki merupakan hal yang sangat sulit. Sejak dua ideologi ini lahir, konsep utama yang ditekankan sangat berbeda. Munculnya konsep “Russian Idea” pada abad XX menjadi “pencerah” bagi bangsa Rusia. Konsep “Russian Idea” menekankan pada pengutan suatu negara, dimana kepentingan nasional menjadi fokus utama.
Sumber Referensi
Devlin, J. (1999). Slavophiles and Commissars: Enemies of Democracy in Modern Russia. London: Macmillan Press.
Mironov, B. N. (2004). Westernizers. In J. R. Millar (Ed.), Encyclopedia of Russian History (pp. 1663-1664). New York: Macmillan Reference.
Muskin, A. (n.d.). Of Russian origin: Slavophiles and Zapadniki. Diakses pada 16 Maret 2013, dari Russiapedia: http://russiapedia.rt.com/of-russian-origin/slavophiles-and-zapadniki/
Richmond, Y. (2009). From Nyet to Da: Understanding the New Rusia (IV ed.). Boston & London: Intercultural Press.
Williams, C. (2004). Slavophiles. In J. R. Millar (Ed.), Encyclopedia of Russian History (pp. 1405-1406). New York: Macmillan Reference.
Zacek, J. F. (2000). Slavophilism. In R. Frucht, Encyclopedia of Eastern Europe: From the Congress of Vienna to the Fall of Communism (p. 634). New York & London: Garland Publishing, Inc.
Note: Tulisan ini merupakan tugas Mata Kuliah Masyarakat dan Pemerintahan Rusia pada Semester Genap 2012/2013, Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
No comments:
Post a Comment