"I were born because I am going be important to someone"

Friday, 12 April 2013

Perdebatan Slavopil dan Zapadniki Hingga Kemunculan “Russian Idea”


Slavopil dan Zapadniki adalah dua pandangan filosofis Rusia yang berkembang pada awal abad ke-19. Dua pandangan ini memiliki pandangan yang sangat bertentangan tentang negara Rusia. Slavopil lebih menekankan kepada pengaruh dan pemikiran Gereja Ortodox sebagai identitas Rusia. Sementara itu, Zapadniki lebih menekankan bahwa Rusia harus mencontoh negara-negara Eropa Barat agar menjadi negara maju. Dua pandangan filosofis yang dihasilkan oleh para intelegentsia ini masih menjadi perdebatan. Slavopil atau Zapadniki yang harus diterapkan di Rusia.

Peter Chaadayev (1794-1856) merupakan salah satu pemikir Rusia yang memberikan sumbangan cukup besar munculnya dua ideologi ini. Pemikirannya yang tertuang dalam Philosophical Letter tahun 1836 dianggap sebagai awal munculnya ideologi Slavopil dan Zapadniki (Williams, 2004). Chaadayev menekankan bahwa Rusia perlu menjalin hubungan dengan Eropa Barat dan Gereja Katolik Roma. Pandangannya tentang agama, kebangsaan, tradisi, dan budaya menjadi pemicu perdebatan antara Slavopil dan Zapadniki.

Slavopil (Slavophiles)
Slavopil adalah ideologi yang mulai berkembang pada awal abad ke-19. Para intelegentsia yang memelopori terciptanya ideologi ini adalah sastrawan Aleksey  Khomyakov (1804-1860) dan kritikus sastra Ivan Kireyevsky (1806-1856). Para penganut Slavopil berpandangan bahwa domokrasi adalah bagian dari budaya Rusia, namun mereka menghindari demokrasi yang telah dipengaruhi oleh Eropa Barat. Mereka menolak keras pengaruh Eropa Barat dan menganggap Gereja Ortodox lebih baik. Ideologi ini sangat menjaga semangat kebersamaan (sobornost). Konsep sosialisme ditolak penganut Slavopil karena dianggap sebagai pemikiran barat. Penganut Slavopil menganggap bahwa Gereja Ortodox Timur sebagai pemersatu perdamaian dunia.

Para pemikir Rusia seperti Mikhail Shcherbatov, Aleksander Radishchev, Poshkov, Nikolai Novikov, dan Nikolai Karamzin merupakan penganut Slavopil  (Williams, 2004). Mereka merupakan pemikir yang membedakan Rusia Kuno dan Rusia Modern. Pemikiran mereka sangat menonjol ketika masa pemerintahan Tsar Nikolai I (1794-1855) dan pada masa Pemberontakan Desember pada tahun 1825.

Berdasarkan pada gagasan yang dikemukakan oleh Chaadayev, para penganut Slavopil mengembangkan tiga gagasan utama yaitu samobytnost (keaslian), kepentingan Gereja Ortodox, dan penolakan terhadap gagasan dari Peter Agung tentang westernisasi (Williams, 2004). Selain itu, mereka (Slavopil) menentang pembatasan kekuasaan Tsar serta mendukung kebebasan individu untuk berpendapat, memberikan gagasan, dan berperilaku.

Para penganut Slavopil percaya bahwa sifat yang diwariskan oleh bangsa Slavia sangat tepat diterapkan untuk mempertahankan identitas Rusia seperti lembaga tradisional zemsky sobor dan organisasi komunal mir (Zacek, 2000).  Mereka juga percaya bahwa bangsa Rusia akan menyatukan kembali orang Slavia dan Rusia akan memimpin kejayaan Slavia. Slavopil juga mendukung adanya sistem otokrasi, mendukung pembebasan budak, serta kebebasan berbicara dan pers. 

Slavopil sendiri terbagi atas tiga kategori yaitu, klasik, moderat, dan radikal (Williams, 2004). Mereka juga memiliki pandangan khusus tentang sejarah, bahasa, budaya serta visi Rusia kedepan, terutama hubungan Rusia dengan Barat. Mayoritas penganut Slavopil menentang reformasi yang dilakukan Peter Agung yang telah merusak tradisi Rusia. Mereka (Slavopil) beranggapan bahwa Rusia harus kembali kepada akarnya dan membangun kekuatan sendiri. Secara umum para penganut Slavopil melihat bahwa perjalanan ke Barat sebagai ancaman bagi gereja, petani, masyarakat desa, dan lembaga Rusia lainnya. 

Pada awalnya banyak penganut Slavopil Klasik terpengaruh oleh slogan Nikolai I, yaitu, Ortodoksi, Otokrasi, Nasionalisme. Ivan Kireyevsky (1806-1856) merupakan tokoh Slavopil Klasik yang penting. Inti pemikiran Kireyevsky adalah menolak perkembangan rasionalisme, sekularisme, revolusi industri, dan liberalisme (Williams, 2004). Kireyevsky beranggapan bahwa Rusia sebagai negara negara baru yang masih terbelakang, namun tidak perlu meniru apa yang telah dilakukan masyarakat Barat.

Aleksei Khomaikov (1804-1860) merupakan salah satu tokoh Slavopil Klasik. Seperti Kireyevsky, Khomaikov juga berpandangan tentang pembebasan budak dan penentangan terhadap pemikiran Barat. Khomaikov menekankan pada kebebasan spriritual (sobornost) dan keunikan sejarah Rusia (Williams, 2004). Pendapat ini didukung oleh Yuri A. Samarin (1819-1879) yang juga pengikut Slavopil Klasik. Samarin menambahkan bahwa individualitas hanya menaikan keegoisan dan keterasingan, oleh karena itu perlu adanya penguatan negara dan pemimpin pusat. Tokoh lain yang tergolong dalam Slavopil Klasik adalah dua bersaudara Ivan Aksakov dan Konstantin Aksakov.  Keduanya ingin mempertahankan tradisi Rusia dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang Slavia. 

Slavopil Moderat dipelopori oleh Mikhail P. Pogodin (1800-1875) dan Fyodor I. Tyuchev (1808-1873) (Williams, 2004). Pogodin adalah seorang ahli sejarah, sedangkan Tyuchev adalah seorang penyair dan penulis esai. Sementara itu, Slavopil Radikal dipelopori oleh Nikolai Y. Danilevsky (1828-1855). Gagasan yang diusung oleh Danilevsky adalah menyatukan semua negara dan masyarakat yang memakai bahasa Slavia. Meskipun tidak terlalu mendapat dukungan dari beberapa pemerintah pada abad ke-17, pemerintah Rusia pada tahun 1870 menggunakan konsep ide Danilevsky untuk melakukan kebijakan rusifikasi serta meningkatkan kebijakan ekspansi. 

Zapadniki (Westernizers)
Zapadniki adalah ideologi yang bertentangan dengan Slavopil. Para penganut ideologi Zapadniki percaya bahwa Rusia perlu mengadopsi sistem budaya, industri dan ekonomi Barat. Hal ini dianggap perlu bagi para pengikut Zapadniki karena mereka menganggap bahwa semua negara yang ingin berkembang seperti negara-negara Eropa Barat maka harus mencontoh apa yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat. 

Bagi para pemikir Zapadniki, reformasi yang dilakukan oleh Peter Agung dan Katerina Agung awal dari kemajuan bangsa Rusia. Oleh karena itu, mereka (Zapadniki) menganggap bahwa apa yang telah dilakukan Peter Agung dan  Katerina Agung perlu dilanjutkan. Tujuan utamanya adalah agar Rusia sejajar dengan negara-negara Eropa Barat. 

Pandangan filsafat Zapadniki dipengaruhi oleh filsuf Barat seperti George Hegel, Johann Herder, Immanuel Kant, Friedrich Schelling, Johann Fichte, dan Auguste Comte (Mironov, 2004). Inti pemikiran dari mereka didasarkan pada pengakuan terhadap kecerdasan manusia. Para penganut Zapadniki beranggapan bahwa kecerdasan dapat mendorong kepercayan serta memberikan kesempatan untuk mengatur dunia sebagai suatu hubungan sebab akibat (Mironov, 2004). Bagi penganut Zapadniki proses sejarah adalah proses sosial 
serta tujuan manusia adalah menyebarkan kecerdasan.

Pada tahun 1840-an, Zapadniki terbagi menjadi dua bagian yaitu radikal dan liberal (Mironov, 2004). Zapadniki Radikal terdiri Aleksander Ivanovich Gertzen dan Nikolai Ogarev, sedangkan Zapadniki Liberal terdiri atas mayoritas para penganut Zapadniki. Zapadniki Radikal hidup sebagai imigran dan membenarkan penggunaan sistem kekerasan untuk mengubah sistem politik (Mironov, 2004). Sementara itu, Zapadniki Liberal mendukung adanya reformasi perdamaian serta menyarankan untuk pemberian tekanan terhadap oponi publik serta penyabaran gagasan mereka melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang ekonomi, para penganut Zapadniki Liberal menganggap bahwa perkembangan industri, perdagangan, dan pembangunan rel kereta api adalah beberapa cara untuk mengembangkan perdagangan bebas (Mironov, 2004). 

Slavopil atau Zapadniki?
Perdebatan mengenai Slavopil atau Zapadniki terus berlanjut. Saat ini perdebatan berlanjut antara pendukung dan penentang reformasi, modernisasi, dan tradisionalis maupun internasionalis dan nasionalis (Richmond, 2009: 54). Kelompok konservatif Rusia sedang berusaha untuk menjaga kepercayaan dan harmoni sebagai warisan ideologi Slavopil. Sementara itu, pemerintah Rusia melakukan pembaruan kembali nilai moral dan mencari “Russian Idea” baru untuk membangun Rusia baru pasca runtuhnya Uni Soviet (Richmond, 2009: 55). 

Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia, kembali menyatakan bahwa pembaruan tidak hanya tergantung pada kesuksesan ekonomi atau kebijakan yang tepat, tetapi juga tergantung kepada kebangkitan nilai moral dan semangat nasionalisme (Richmond, 2009: 55). Semangat dan kebangkitan tersebut sering disebut sebagai “Russian Idea” yang menekankan kepada patriotisme, perlindungan sosial, negara yang kuat, dan kekuasaan yang luas. “Russian Idea” dianggap sebagai gagasan yang dapat menjangkau segala macam partai yang ada di Rusia, baik nasionalis maupun komunis. 

Beberapa penggagas “Russian Idea” adalah orang neo-Eurosianis (Richmond, 2009: 55). Mereka merupakan pemikir-pemikir yang mengalami pengasingan di Eropa Barat pada tahun 1920-an. Saat ini Eurosianis menolak pemikiran Barat dan melihat masa depan Rusia di timur. Mereka mendukung penyatuan tiga orang Slavia (Rusia, Belarusia, dan Ukraina). Para tokoh Eurosianis saat ini adalah Genady Zyuganov pemimpin Partai Komunis Rusia. Sedangkan, tokoh ultransionalis ialah Vladimir Zhirinovsky sebagai pemimpin Partai Liberal Rusia (Richmond, 2009: 56).

Penggabungan antara Slavopil dan Zapadniki merupakan hal yang sangat sulit. Sejak dua ideologi ini lahir, konsep utama yang ditekankan sangat berbeda. Munculnya konsep “Russian Idea” pada abad XX menjadi “pencerah” bagi bangsa Rusia. Konsep “Russian Idea” menekankan pada pengutan suatu negara, dimana kepentingan nasional menjadi fokus utama. 

Sumber Referensi
Devlin, J. (1999). Slavophiles and Commissars: Enemies of Democracy in Modern Russia. London: Macmillan Press.
Mironov, B. N. (2004). Westernizers. In J. R. Millar (Ed.), Encyclopedia of Russian History (pp. 1663-1664). New York: Macmillan Reference.
Muskin, A. (n.d.). Of Russian origin: Slavophiles and Zapadniki. Diakses pada 16 Maret 2013, dari Russiapedia: http://russiapedia.rt.com/of-russian-origin/slavophiles-and-zapadniki/
Richmond, Y. (2009). From Nyet to Da: Understanding the New Rusia (IV ed.). Boston & London: Intercultural Press.
Williams, C. (2004). Slavophiles. In J. R. Millar (Ed.), Encyclopedia of Russian History (pp. 1405-1406). New York: Macmillan Reference.
Zacek, J. F. (2000). Slavophilism. In R. Frucht, Encyclopedia of Eastern Europe: From the Congress of Vienna to the Fall of Communism (p. 634). New York & London: Garland Publishing, Inc.

Note: Tulisan ini merupakan tugas Mata Kuliah Masyarakat dan Pemerintahan Rusia pada Semester Genap 2012/2013, Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia 

Friday, 16 November 2012

CARA MENGUBAH KEGAGALAN MENJADI KESUKSESAN


1. KEGAGALAN
Ingatlah bahwa tak ada kegagalan yang permanen kecuali hanya kemunduran sementara dalam kehidupan yang sukses. Kegagalan adalah suatu insiden yang dapat ditenun ke permadani prestasi yang kreatif. Ingatlah kegaglan itu hanya sementara.

2. KELIRU
Gagal boleh diartikan sebagai cara yang keliru untuk melakukan sesuatu. Oleh karenanya, kegagalan memiliki unsur-unsur menguntungkan dalam arti memberitahu kita agar tidak mengulanginya lagi. Jika anda tau apa yang tidak boleh dilakukan, anda lebih siap belajar bagaimana seharusnya.

3.BELAJAR
Anda bisa belajar dari kegagalan dengan menemukan apayang tidak boleh diulangi, anda bisa belajar lebih efektif dari sukses anda dengan menemukan apa yang harus dilakukan.

4. JANGAN PERNAH
Jangan pernah menerima kegagalan. Hindarilah konteks kegagalan dari pikiran anda. Tanamkan konsep sukses dalam benak anda.

5. BERPIKIR
Ingatlah tulisan di dinding Thomas Alfa Edison: "Ada cara yabg lebih baik untuk melakukannya, carilah itu". Bagaimana Caranya??Dengan disiplin yang dimotivasikan oleh do'a serta berfikir kreatif.

6.KERAJINAN
Tidak ada sukses yang dapat diraih dalam kehidupan ini tanpa kerajinan. Bekerjalah yang rajin, maka prestasi sukses akan terbuka di hadapan anda. Kemampuan untuk bekerja dengan tekun sangatlah penting dalam meraih suskes.

7. SASARAN
Semua orang sukses punya goal, bukan tujuan yang tidak jelas, melainkan sasaran yang spesifik yang didefinisikan dengan jelas, Tidak seorang pun bisa kemana-mana kecuali ia tahu ingin pergi kemana dan apa yang ingin dilakukan atau ingin menjadi apa dia. Miliki sasaran yang pasti,yang berorientasi doa.

8. BENAR
Pastikan agar sasaran anda itu benar, karena tidak ada yang keliru yang akan berubah menjadi benar. kekerliruan akan melahirkan kekeliruan. Hanya kebenaran yang akan melahirkan kebenaran, jadi pastikanlah agar sasaran anda benar.

9. BERTANYA
Anda melakukan apa yang harus anda lakukan dalam kehidupan, mintalah arahan Tuhan. Setelah dipikir-pikir, hanya kehidupan yang diarahkan oleh Tuhan yang dapat mencapai sukses sejati serta mendasar.

10. CARA
Cara pasti menuju sukses adalah cara doa yang tidak egois. Pikirkan bahwa anda ingin melakukan kebaikan terbaik di dunia, dan mencapai nilai-nilai terbaik, bukan sekedar bagi diri sendiri melainkan juga bagi semua orang, maka anda akan membawa pengalaman total anda ke dalam motivasi sukses.

Saturday, 27 October 2012

Terusik

27 Oktober 2012

Seperti biasanya, setiap weekend, saya nongkrong di perpustakaan UI. Yah, disana mungkin hanya sekedar ngenet cari bahan kuliah atau yang lain. Tapi pada waktu itu ada, kabar yang sedikit mengusik pikiran saya, ketika saya pulang dari perpustakaan. 

Sepulang dari perpus sekitar jam 4 sore, hal yang pertama saya lakukan adalah mengangkat jemuran. Hari itu Depok lagi pelit ngasih cahaya matahari buat ngeringkan jemuran saya :( . Setelah mengangkat jemuran, saya langsung duduk di sofa di ruang tamu kontrakan. Eh, daripada bengong nanti malah kesambet, saya nyalakan TV. Pencat-pencet, cari acara TV yang bagus. Beberapa kali pencet, saya berhenti pada suatu stasiun televisi. Stasiun televisi ini menayangkan berita tentang teroris. Karena ini berita baru, saya stay di stasiun TV ini. 

Beberapa saat mencermati beritanya, saya kaget (tapi gak lebay juga). Kaget, karena pada berita ini, anchor-nya menyebut Madiun. Wah, sebagai orang asli Madiun, saya sedikit heran dengan kabar ini. Selama saya bersekolah hingga SMA di Madiun, setahu saya tidak terlalu banyak berita negatif yang terekspos secara nasional [adem ayem wae :)]. Paling - paling berita tentang masalah klasik (tau sendiri  ada apa di Madiun kalau bulan syura), dan masalah mudik (maklum setiap musim mudik, Madiun sering diliput karena sebagai jalur nadi antara Jatim dengan Jateng). 

Eh, tidak menyangka dan tidak mengira, sekali ada berita langsung meluas secara nasional. Sebagai putra daerah Madiun tulen [nggak cuma Jawa yang bisa tulen =D], saya juga perihatin dengan pemberitaan tersebut. Meskipun lokasi penangkapan terduga teroris dengan tempat tinggal orang tua saya, tetapi kekhawatiran tetap selalu ada. Yah, sebagai orang yang kampung halamannya di Madiun, secara pribadi saya berharap semoga ini kejadian yang terakhir dan Madiun tetap menjadi kota yang layak huni dan  tetap menjadi Kota Gadis. Maksudnya Kota Gadis itu adalah kota perdagangan dan Industri. He..he..he... :D 


Analogi Sederhana


Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
 Si tukang cukur berkata,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
 “Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal
 si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan
sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
 Adakah yang sakit??,
 Adakah anak terlantar??
 Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
 Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,
 berombak kasar(mlungker-mlungker-istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak
 dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat. Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
 “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG
 CUKUR.”
Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
 “Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
 “Tidak!” elak si konsumen.“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
 “Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
 ” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok! ” kata si konsumen menyetujui.
” Itulah point utama-nya!Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.” 
Si tukang cukur terbengong !!! %^%&^*&^*$%$

SI TUA KORNEY VASILIEV - Leo Tolstoy (Sinopsis)


Korney adalah seorang yang memiliki beberapa pengalaman bekerja dalam hidupnya. Ia pernah bekerja di toko, dinas militer, pedagang ternak, dan asisten pegawai perusahaan penebangan kayu. Korney juga pernah melaukan pernikahan sebanyak 2 kali. Istri pertamanya sering sakit, lalu meninggal tanpa memberi Korney seorang anak. Korney tidak butuh waktu lama untuk mencari istri baru. Wajahnya yang mulus, tengkuk lehernya yang bidang dan kuat merupakan daya tarik yang dia miliki untuk mencari istri baru. Setelah menduda beberapa waktu dia menikahi seorang gadis cantik. Dia adalah seorang anak janda yang tinggal di sebelah desa Korney, setelah menikah dia memutuskan untuk meninggalkan desa dan merantau di Moskow dan Chekas. Setelah merantau beberapa tahun, dia kembali ke desa Gayi untuk bertemu dengan ibu, istri dan anaknya.

Perjalanan pulang, ia bertemu teman lamanya yang bernama Kusma di sebuah stasiun. Kusma adalah teman sedesa Korney yang sekarang ia bekerja sebagai penarik kereta kuda. Setelah berbincang sebentar, Korney meminta Kusma untuk mengantarnya ke desa Gayi. Selama perjalanan kedua orang tersebut berbincang-bincang tentang bagaimana kondisi desa sekarang. Dalam percakapan yang terus berlangsung, Kusma menceritakan bahwa Marfa (istri Korney) telah  membawa pelayan lelaki bernama Evstigny Bely dari Kamenka ke rumahnya. Saat menempuh setengah perjalanan mereka berdua berhenti di sebuah kedai minuman untuk istirahat dan minum vodka. Di kedai tersebut Kusma sering menceritakan keadaan Marfa yang telah membawa pelayan laki-laki ke rumahnya. Mendengar hal itu Korney merasa cemburu dan kesal. Selasai istirahat mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah pada petang hari. Setiba di rumah orang yang bertemu dengan Evstigny Bely, orang yang keriput, bulu matanya putih dan berjalan tergopoh-gopoh. Kemudian di bertemu dengan istri dan anaknya  yang berumur 2 tahun. Untuk menyambut kedatangan Korney para penghuni rumah mengadakan acara minum teh. Saat acara itu Korney membagikan beberapa oleh-oleh dari Moskow untuk anggota keluarganya. Korney hanya diam dan hanya sesekali bicara dan tersenyum. Setelah acara minum teh selesai Korney masuk ke kamar tidur untuk istirahat. Di kamar tidur ia tidak langsung istirahat melainkan menuggu Marfa istrinya. Tidak beberapa lama Marfa masuk ke kamar dengan menggendong anak perempuannya yang sudah tidur.

Setelah menaruh putrinya ke ranjang, Marfa dan Korney mulai bercakap-cakap. Korney menanyakan apakah Marfa tinggal dengan Evstigny. Selain itu Korney juga menanyakan apakah Evstigny sudah lama tinggal tinggal di rumahnya. Marfa menjawab jika Evstigny sudah 3 minggu tinggal di rumahnya. Korney terus bertanya kepada Marfa tentang apa yang Marfa bicarakan dengan Evstigny di koridor saat Korney baru tiba. Marfa menjawab jika dia hanya menyuruh Evstigny untuk memasang gelindingan di atas tong. Meskipun Marfa sudah menjawab dengan jujur namun Korney tidak percaya kepadanya, Korney mulai emosi dan marah. Karena Korney sudah emosi dan Marfa tetap kukuh terhadap perkataannya maka akhirnya mereka bertengkar. Saat pertengkaran itu Korney beberapa kali memukul Marfa di bagian kepala, pinggang dan dada. Agasha (anak perempuannya) yang tidur langsung terbangun dan memeluk Marfa. Karena Korney sudah tersulut emosi yang tidak terkendali dia langsung menghempaskan Agasha ke sudut kamar. Mengalami hal itu Agasha langsung tidak bersuara. Beberapa saat kemudian Agasha berteriak lagi dan ibu Korney langsung masuk kamar dan memelukya. Marfa yang mulai berdarah dan emosi, tanpa pikir panjang mengatakan bahwa dia memang tinggal bersama Evstigny dan Agasha adalah anak Evstigny bukan anak Korney. Mendengar hal itu Korney semakin marah dan kembali memukul Marfa. Ibu Korney yang melihat perlakuan kasar anaknya langsung memarahi Korney. Akibat perbuatan kasar Korney lengan Agasha patah. Korney keluar pintu dan merenung di tangga masuk rumahnya. Beberapa saat kemudian ia mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar. Dengan rasa kesal Marfa mencerca Korney, namun Korney tetap diam saja. Korney berencana untuk pergi ke stasiun. Ia diantar menggunakan kuda oleh keponakannya yang bodoh. Setiba di stasiun Korney pergi naik kereta tanpa memberi tahu kemana tujuannya.

Tujuh belas tahun telah berlalu. Keadaan Korney sekarang tidak seperti yang dulu. Korney yang sekarang adalah seorang pengemis tua. Dia  hanya memiliki baju yang melekat pada tubuhnya, selembar tiket dan 2 kemeja. Perubahan hidup yang dialami Korney karena dia terus memikirkan istrinya. Dia menganggap istrinya yang membawa kemalangan ini. Setelah meningalkan istrinya 17 tahun yang lalu, Korney berniat membeli sebidang tanah namun tanah yang ingin dia beli sudah dijual ke pihak yang lain. Ia kemudian ke Moskow dan saat itu dia mulai minum-minuman keras. Korney mencoba untuk bertahan hidup dengan beternak hewan, menjadi pegawai, berdagang ternak, bekerja di saudagar anggur dan pengembala hewan ternak. Malangnya apa yang dilakukan Korney tidak berhasil dan dia memutuskan untuk menggelandang. Korney terus melakukan perjalanan tanpa tujuan, dia melewati Kiev, Kaukasus, hingga Novy Alfon. Saat melakukan perjalanan itu Korney mengalami demam dan uangnya mulai habis. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah anak lelakinya. Sebelum tiba di rumah anaknya uang Korney sudah habis sehingga dia harus mengemis. Dengan menempuh perjalanan selama dua minggu, ia akhirnya sampai ke Andreyevka dan dia bertemu seorang gadis pengembala hewan ternak dalam perjalanannya itu. Gadis muda tersebut menawari Korney untuk mampir ke rumahnya. Gadis itu sebenarnya adalah Agasha, sekarang Agasha telah menikah dengan pemuda kaya dari Andreyevka. Akibat kekejaman Korney 17 tahun yang lalu, tangan Agasha hingga sekarang mengalami cacat.

Saat pertemuan tersebut, baik Agasha maupun Korney belum mengenal satu sama lain. Karena mendapat tawaran dari Agasha untuk mampir, Korney berencana untuk menginap 1 sampai 2 hari. Keluarga Agasha mempersilahkan Korney untuk mampir dan mengundang Korney dalam acara minum teh pada malam harinya. Saat acara minum teh tersebut mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal. Sampai akahirnya Korney menanyakan apa yang terjadi dengan tangan Agsha. Ibu mertua Agasha menceritakan kepada Korney jika tangan Agasha patah sejak kecil karena dianiaya ayahnya. Ibu mertua Agasha memberitahu jika nama ayah yang menganiaya Agasha bernama Korney. Ibu mertuanya juga menyebutkan jika Korney telah menghilang selama 17 tahun yang lalu dan mungkin si Korney sudah mati. Mendengar cerita tersebut Korney hanya bisa diam. Kemudian dia bertanya kepada Agasha, apakah Agasha marah kepada ayahnya yang telah mematahkan lengannya? Agasha menjelaskan jika ia tidak marah kepada ayahnya. Meskipun dia telah membuatnya cacat Agasha. Mendengar hal itu Korney menangis tersedu-sedu.

Keesokan paginya Korney berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Ia berencana untuk datang ke desa Gayi. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan Korney sampai ke desa tempat ia tinggal dulu. Desanya tidak berubah, begitu juga rumahnya. Sampai di depan rumahnya dulu Korney melihat dua ekor kuda dan seorang anak kecil. Korney menduga jika anak kecil itu adalah cucunya, anak dari Fedka. Di belakang anak tersebut ada seekor anjing yang berwarna hitam. Korney mengira anjing itu adalah Volchok, anjing peliharaannya dulu. Setiba di koridor rumah, Korney di usir oleh seorang wanita tua, karena dianggap seorang pengemis. Wanita tua itu adalah Marfa. Korney berharap bertemu Marfa yang cantik, bukan wanita tua yang keriput. Marfa belum tahu jika yang datang ke rumahnya adalah Korney. Dia tidak mau bertemu dengan Korney sehingga menutup rumahnya. Tidak lama kemudian datang dua orang petani dari pitu. Mereka adalah Fedka dan kemenakan Korney. Kemenakannya yang tolol kemudian mengambilkan roti untuk Korney. Melihat sikap yang ditunjukan 2 anggota keluarganya ini, ia tidak mampu menahan tangis karena terharu. Setelah menerima sepotong roti tawar, Korney berpamitan untuk meninggalkan rumahnya. Melihat Korney meninggalkan dirinya, Marfa merasa lega. Marfa melanjutkan pekerjaannya, namun dia tetap memikirkan Korney.

Korney kembali ke rumah Agasha. Disana Korney berencana untuk menginapa semalam. Pada malam harinya Korney menderita demam yang cukup tinggi, namun dia tetap bisa tidur. Ketika dia bangun tidur di pagi hari, hanya Agasha yang masih ada di rumah. Melihat Korney terbangun, Agasha mengambilkannya sepotong roti. Lalu Korney berbicara dengan Agasha jika hidupnya tidak lama lagi dan ia meminta maaf kepada Agsaha. Dengan jiwa besar, Agasha memaafkan Korney yang telah membuatnya cacat seumur hidup. Korney meminta tolong kepada Agasha untuk memberi tahu ibunya jika orang yang kemarin datang kerumahnya adalah Korney. Kemudian Korney memberi Agasha selembar tiket prajurit untuk diberikan kepada siapapun yang  memintanya. Agasha pun pergi sebentar unuk menyimpan tiket tersebut. Dengan suara yang lemah Korney meminta lilin dan mencoba meraih lilin itu dengan ibu jarinya. Saat Agasha kembali dari menyimpan tiket prajurit yang diberikan Korney, dia melihat Korney sudah meninggal.

Marfa yang pada malam harinya yang terus kepikiran Korney pada keesokan harinya ia datang ke rumah Agasha. Saat tiba disana, dia melihat banyak orang datang ke rumah anaknya itu. Mereka ternyata berziarah untuk kematian Korney Vasiliev. Orang yang dulunya kaya dan terkenal sekarang meninggal dalam keadaan miskin.

Note: sinopsis ini pernah saya dipaparkan pada Mata Kuliah Kajian Prosa Rusia sebagai tugas individu pada Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia pada tahun akademic 2010/2011

Sinopsis Cerita Pendek “Makar Chudra” (Maxim Gorky)

Cerita pendek yang berjudul “Makar Chudra” (bahasa Rusia: Макар Чудра) ini ditulis pada tahun 1892 dan merupakan karya pertama yang diterbitkan dari Maxim Gorky. Dalam cerita ini Gorky menggambarkan dirinya sebagai tokoh ‘aku’ yang berinteraksi dengan Makar. Dialog antara kedua tokoh di sini menjadi fokus cerita, meskipun Makar lebih mendominasi.
Cerita dimulai dengan kehadiran seorang gipsi tua bernama Makar Chudra, yang bercakap-cakap dengan penlulis. Sudah gelap, angin berat, api unggun yang berkobar marah. Makar mengisap pipa yang besar.
Makar berpendapat bahwa orang dilahirkan untuk melakukan perjalanan dan tidak ada yang lebih baik dari bepergian. Ia bertanya mengapa seorang pria harus membajak sawah. "Seorang pria yang bajak tanah menuangkan kekuatannya ke dalam tanah. Dia tidak hanya kehilangan kekuatannya, tetapi juga kebebasannya. Dia terikat pada tanah. Saya telah melakukan begitu banyak perjalanan, melihat begitu banyak dan belajar banyak bahwa Anda akan membutuhkan 1000 kantong kertas untuk menempatkan mereka semua masuk "
Pembicaraan berhenti ketika mereka mendengar Nonka, putri Makar yang sedang bernyanyi. Penulis melihat dan terpesona oleh kecantikannya. Makar mengatakan "Anda ingin memiliki seorang pelayan cantik seperti dia dan jatuh cinta dengan Anda? Tidak baik untuk Anda. Jangan taruh kepercayaan Anda pada wanita. Suatu kali Anda menciumnya, semua kebebasan Anda akan hilang. Anda akan menuju pada keruntuhan. Mari saya ceritakan sebuah cerita."
Loiko Zobar adalah seorang pemuda pemberani yang terkenal di seluruh stepa. Jika ia pernah mengambil dan menyukai sesuatu, itu akan menjadi miliknya. Ia selalu berkelana sesuka hatinya. Ada sedikitnya sepuluh orang di setiap desa yang telah bersumpah untuk mengambil kepalanya. Akan tetapi, mereka bahkan tidak bisa menyentuh rambut di kepalanya. Dikatakan bahwa ia bahkan bias membunuh setan jika ia berjalan di jalannya.
"Kumisnya menyapu ke bawah bahunya, di mana mereka berbaur dengan rambutnya, matanya bersinar seperti dua bintang terang, dan senyumnya adalah matahari. Ketika dia menatap mata Anda, jiwa Anda akan menyerah padanya, dan Anda akan bangga bangga karenanya. Anda tampak selalu menjadi lebih baik di hadapannya. "
Radda adalah ratu di antara keindahan. Seorang pria berakar ke tempat di mana ia berdiri jika ia melihatnya. "Tidak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan Radda. Mungkin hanya dapat dilukiskan dengan permainan biola, tetapi hanya orang yang tahu instrumen karena ia tahu jiwanya."
Banyak pria melamarnya tetapi Radda menolak. Seorang pria kaya begitu kagum dengan kecantikannya sehingga dia siap untuk memberikan segalanya demi Radda, Akan tetapi, Radda terlalu angkuh. Radda selalu mengejek setiap orang yang meminta tangannya.
Dalam suatu perjalanan, Zobar kebetulan datang ke kamp di mana Radda tinggal. Zobar masuk ke dalam kamp sekaligus terpesona oleh kecantikan Radda. Ia mencoba untuk merayu Radda. Dia hanya menemukan lelucon akan ceramahnya, menemukan musik lembut, dia tidak menyerah kepada Radda dengan cara apapun. Zobar terjun ke dalam keputusasaan dan bermain biolanya sepanjang malam. Dia begitu brilian bermain biola dan musiknya mencairkan hati setiap orang. Semua orang mengagumi kepiawaian Zobar, namun Radda tidak seperti itu. Dia mengolok-olok Zobar terus-menerus. Padahal semua orang menghargai setiap lagu yang dinyanyikan oleh Zobar, ia dengan keras mengritik mereka.
Karena tidak menemukan cara untuk membuat Radda setuju kepadanya, Zobar mendekati Danilo, ayah Radda. Danilo menyetujui Zobar dan mengatakan "bawa dia kalau bisa". Radda terlihat duduk di atas kuda dan Zobar mendekatinya. Dia bilang dia telah melihat banyak wanita, tetapi tidak ada yang berapi-api dan seindah Radda. Dia meminta Radda untuk menjadi istrinya. Ia juga memperingatkan bahwa untuk menjadi istrinya tidak berarti bahwa ia akan mampu untuk mengekang kebebasannya. Radda bulu mencambukkan bulu matanya kepada Zobar. Zobar menangkap kakinya dan menarik Radda hingga jatuh. Radda memiliki seringai liar di wajahnya.
Setelah Radda jatuh dari kuda, ia datang ke arah Zobar. Begitu ia sudah dekat Zobar, Zobar menyerang dengan pisau dan Radda menarik pistol keluar. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia siap untuk gencatan senjata. Radda mengatakan bahwa ia menemukan orang paling berani di seluruh padang rumput, satu-satunya orang yang pernah bisa berdiri di hadapannya. Dia memberikan pilihan di hadapannya. Jika dia harus menjadi istrinya, Zobar harus menyentuh kaki Radda di depan setiap orang dan kemudian mencium tangannya. Radda mengatakan kepada Zobar bahwa ciuman penuh gairah dan belaiannya sedang menunggu Zobar. Di bawah pengaruhnya Zobar akan melupakan kehidupan berani yang dipimpin olehnya di masa lalu dan menjadi hamba Radda selama-lamanya.
Setiap orang tidak setuju apabila Zobar harus menyentuh kaki Radda. Zobar tidak mengatakan apa-apa dan pergi menjauh. Dia terlihat berpikir sepanjang malam, kadang-kadang bermain nada sedih dengan biolanya di malam hari.
Hari berikutnya datang. Zobar memberitahu rekan-rekannya bahwa ia akan menyentuh kakinya, tetapi ia perlu untuk menguji seberapa kuat hatinya. Zobar berjalan menuju Radda, pergi mendekati dan menjerumuskan pisau ke dalam hati Radda. Dia menarik pisau keluar dan beberapa saat sebelum keluar dia berkata "Selamat tinggal Zobar. Aku tahu kau akan melakukannya". Sebagian orang tertegun melihat Radda tidak bernyawa. Zobar melemparkan dirinya di kaki Radda. Beberapa saat kemudian semua orang masih diam setelah Zobar bangkit dan mulai berjalan pergi. Saat itulah Danilo berlari menuju Zobar dan menyodorkan pisau ke bagian belakang hatinya. Zobar terjatuh.
Tubuh Radda dan Zobar akhirnya terbaring mati dan terus berputar-putar dalam pikiran penulis, namun Makar Chudra terus merokok dengan cerutunya yang besar.

Note: Sinopsis ini pernah dipaparkan pada makalah dan presentasi sebagai tugas kelompok Mata Kuliah Sastra dan Masyarakat Rusia, Program Studi Rusia, FIB UI tahun akademik 2011/2012.